Ruang Berpikir dan Berpendapat

Halte, Jawa Pos, Muhidin M Dahlan

Tidak Ada Java Oorlog di Ujung Agustus

Tidak Ada Java Oorlog di Ujung Agustus - Halte Muhidin M Dahlan

Tidak Ada Java Oorlog di Ujung Agustus ilustrasi Nina/Jawa Pos

Halte Muhidin M Dahlan (Jawa Pos, 13 September 2025)

Kavaleri Kuda dan Pajak

MENJELANG rotasi kabinet (reshuffle) dan tujuh hari setelah rumahnya “dijarah”, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengeluarkan beleid perpajakan baru: “kuda kavaleri buat tentara dan kementerian pertahanan dibebaskan dari PPN”.

API Agustus belum juga padam dan operasi perburuan terhadap penyulut api itu masih sedang digalakkan, media seperti CNBC menyoroti tiga frasa: kuda kavaleri, tentara, dan pajak.

Media seperti ingin memberi tahu publik, pada Agustus tahun ini perhatikan Agustus di masa Perang Diponegoro 200 tahun silam.

Agustus tahun ini rakyat marah kepada pemerintah yang pejabatnya asbun, muak kepada volk sraad yang tidak peka, ndredeg kepada aparat kejam pelindas rakyat, kepada priayi suka berfoya-foya dan maksiat, dan penarikan pajak (cukai) yang membenamkan rasa keadilan.

Bukan sekadar koinsidensi, frasa “kuda kavaleri”, “tentara”, dan “pajak” merupakan kata yang akrab pada Perang Diponegoro. Dan, untuk memperingati Java Oorlog itulah, pemerintah (an sich) secara semarak menggelar pameran seni rupa bertajuk “Nyala” di Galeri Nasional dan pameran arsip bertajuk “Martabat” di Perpustakaan Nasional.

Pameran Perang Jawa ini berlangsung tatkala rakyat di Pati sedang menggelar “festival kebudayaan samin” (baca: aksi muak pajak). Tak ada diksi “Diponegoro” di Pati, seperti halnya tak ada petani Samin saat pemerintah “mengambil alih” sepenuhnya simbolisme Perang Diponegoro yang dahsyat itu di Galeri Nasional dan Perpustakaan Nasional.

Pajak yang mencekik selama bertahun-tahun diterapkan kolonial menjadi bandang amarah rakyat yang meluap luap. Pangeran Diponegoro berhasil memvaluasi kemarahan itu menjadi aksi pemberontakan yang meluas.

Yang menarik, Diponegoro mengawinkan racun pajak itu dengan akhlak busuk priayi/bangsawan/pejabat tinggi yang doyan flexing dan melakukan maksiat. Rasa muak Sang Pangeran yang alim dan saleh itu diperlihatkan mula-mula dengan “melempar sandal” ke muka si pejabat laknat sebelum memberikan seruan akbar: Jawa berontak!

(Patung) Kuda Perang

Kuda kavaleri yang dibebaskan PPN-nya oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelum lengser bukanlah kuda andong, kuda balapan, melainkan kuda perang. Hanya pada sosok Diponegoro-lah kita melihat visualisasi kuda perang itu di Indonesia. Tidak ada sosok lain yang demikian melekat hingga esai ini diterbitkan. Tak ada sosok lain yang visualisasi berkudanya menandingi Diponegoro. Seorang lelaki berjubah serbaputih mengacungkan sebilah keris dengan kuda yang meringkik dan kaki depannya terangkat tinggi-tinggi.

Diponegoro dan kuda perang itu publik baca secara luas di ruang-ruang terbuka lewat seni rupa patung. Sepanjang #TourDeJavaOorlog sepekan sebelum kerusuhan Agustus meledak di Jakarta, saya dengan empat sejarawan muda melewati 15 patung; dimulai dari patung pertama di depan jalan masuk menuju Museum Diponegoro, Tegalrejo, Jogja, DIJ, hingga akhir etape di depan Koramil Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah.

Dari 15 patung yang terkait dengan perang Jawa itu, 6 patung memvisualisasikan Sang Pangeran berkuda. Patung kuda perang terkecil berada tepat di dekat tangga naik Goa Selarong, Bantul. Sementara, yang terbesar dan paling fantastis terdapat di kota tangsi (militer). Tepatnya, di Alun Alun Kota Magelang (Kedu). Magelang adalah kota yang menjadi simbolisme penaklukan Sang Pangeran. Juga, kota di mana semua pucuk pimpinan pejabat pemerintah yang berkuasa saat ini dibina “nyala” dan “martabat”-nya.

Setelah 65, narasi kuda Diponegoro menjadi identik dengan tangsi, kavaleri tentara yang eksklusif. Kuda yang bernama Kyai Gentaju bukan lagi kuda yang memimpin langkah senopati perang dan rakyat melakukan perang gerilya melawan strategi benteng stelsel yang berjumlah 200-an lebih selama lima tahun Java Oorlog. Kyai Gentaju identik dengan kuda peliharaan militer.

Di Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah, patung kuda perang Diponegoro yang saya saksikan paling terakhir jelang Isya pada #TourDeJavaOorlog berdiri di depan markas tentara. Sampai di sini, berita perihal pajak kuda kavaleri tentara milik Kementerian Pertahanan dari Sri Mulyani menjadi tidak sekadar ala kadarnya.

Bandingkan, misalnya, dengan narasi kuda Sang Pangeran dalam roman Aku Pangeran Dipanegara karya J.H. Tarumetor TS yang diterbitkan Gunung Agung pada 1967.

Adegan yang menghadirkan Sang Pangeran bersama kudanya muncul kali pertama pada halaman 12:

Ia masuk kedalam kandang kudanja. ,,Kyai Gentaju”, kuda hitam berkaki putih jang mendjadi kuda kesajangannja, seolah-olah mengerti apa jang sedang dipikirkan oleh madjikannja. Dengan kepala terajun terangguk-angguk kuda pantjal itu mendekati tuannja.

“Kyai, hajo …… keladang pak Rarjo!” perintah Antawirja dan kuda jang setia itu segera mematuhi perintah tuannja, masuk sebuah djalan simpangan ketjil. Tanpa diperintah Kyai Gentaju sudah berhenti di depan seorang lelaki jang hanja setengah badan bawahnja jang terbalut kain tjompang, sehingga tulang-tulang rusuknja timbul diatas kulitnja. Sebuah senjum tampak di sekitar bibirnja jang kusut ketika ia berpaling kepada orang jang baru tiba.

Dua paragraf Tarumetor itu menunjuk pada narasi betapa kuda perang Diponegoro muncul kali pertama di “ladang pak Rarjo”. Sementara itu, Pak Rarjo yang dimaksud adalah “lelaki jang hanja setengah badan bawahnja jang terbalut kain tjompang” alias buruh tani.

“Pak Rarjo” adalah gambaran profil pengikut setia dan menjadi tulang punggung Perang Jawa yang dahsyat itu. “Pak Rarjo” adalah buruh tani yang setelah melihat penderitaan dan kemiskinannya, Sang Pangeran bisa sangat marah seperti adegan berkuda selanjutnya di ladang jagung pada halaman 13-14.

“Dengan penuh rasa djengkel Antawirja mematju kudanja berlalu dari tempat itu. Setelah ladang pak Rarjo sudah hilang dari pandangannja, ia menahan kekang kudanja dan berdjalan perlahan-lahan.”

Kuda yang kecepatannya seperti busur anak panah di ladang jagung itulah yang tergambar dalam larik Babad Diponegoro: Sebuah Kehidupan yang Ditakdirkan Jilid II, ha laman 29.

.

Diceritakan Gethayu,

Dikejar oleh hussar,

semangat senangnya,

lalu lepas

putus pisah dari tukangnya.

.

Lalu dikepung saja,

Gethayu ngamuk seperti raksasa, (Gethayu ngamuk lir yeksa)

ditembak dipedang (binestul pinendhang ika,)

Gethayu tidak mempan. (Gethayu datan tumama)

.

Kafir semua kalah,

bertempur melawan kuda,

jadi tak mendapatkan orang.

Hampir tiba di Kali Soka,

.

Gethayu terjerembab ke dalam lumpur (Gethayu kepaluh ika,)

lalu tewas, (pan lajeng palastranira,)

tetapi mendapat ganti yakni empat Belanda yang tewas di sampingnya.

.

Pemimpin Kavaleri

Kuda yang gagah perkasa itu adalah pemimpin kavaleri. Kavaleri Perang Jawa. Sebuah perang yang melibatkan persekutuan antara bangsawan yang resah, ulama/kiai yang gelisah, santri yang tersentuh batiniahnya, dan lapisan petani di antero Jawa yang hidupnya terisap habis-habisan oleh sistem eksploitatif kolonial.

Dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855), Peter Carey menuliskan narasi ini:

Dengan kavaleri di satu sisi dan infanteri di sisi yang lain, pasukan [yang dipimpin Belanda] bergerak mengepung desa yang mencakup kawasan pemukiman itu. Mereka dapat melihat para pemberontak yang mundur pelan-pelan menyeberangi sawah-sawah. Pangeran Diponegoro berada tidak jauh dari situ sambil menunggang kuda hitam yang indah [Kiai Gitayu] dengan perlengkapan kuda sangat bagus. Ia berbusana seluruhnya putih dengan gaya Arab. Ujung serbannya melambai-lambai diterpa angin saat ia membuat kudanya berjingkrak.

Kuda Diponegoro yang berjingkrak itu memimpin persekutuan di mana senopati, santri, dan buruh-tani menjadi satu tubuh yang tak terpisahkan.

Kini, kavaleri kuda yang dibebaskan cukainya Menteri Sri Mulyani sebelum rotasi kabinet itu tentu saja bukan kavaleri kuda Perang Jawa 200 tahun silam. Heroisme kuda berjingkrak Sang Pangeran yang mengenakan jubah putih itu mengalami banalitas makna dan eksklusif.

Patung kuda Perang Jawa yang saya saksikan pada momentum 200 Tahun Perang Jawa itu sudah dilucuti sehabis-habisnya dari konteks di mana dan bagaimana kaki-kaki kuda itu berpijak. Kuda Diponegoro tidak hanya jinak, tetapi juga sekadar patung belaka yang diskursusnya (di)mati(kan). Lain tidak.

Apalagi, kuda jinak itu kini berdiri di depan markas tentara maupun meringkik bisu di kota tentara. Hubungan (patung) kuda Diponegoro dan ladang-ladang petani pun terbentang jarak jauh yang beku. Itu. ***

.

Muhidin M Dahlan. Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Warung Arsip, anggota tim #TourDeJavaOorlog

.

Jawa Pos menerima esai seni dan budaya dengan panjang naskah 700 kata. Sertakan biodata singkat, foto terbaru, kartu identitas, nomor rekening, dan NPWP. Esai dikirim ke halte@jawapos.co.id Tidak Ada Java Oorlog di Ujung Agustus. Tidak Ada Java Oorlog di Ujung Agustus. Tidak Ada Java Oorlog di Ujung Agustus.

Leave a Reply