Halte Wahyudin (Jawa Pos, 13 September 2025)
DUA puluh lima tahun lalu, dari sebuah ruang bekas kantor arsitektur di Jakarta, Nadi Gallery lahir dengan menggelar pameran tunggal Heri Dono, Humor Rumor (di) Republikartun, selama dua pekan (15 September–1 Oktober 2000). Pameran itu sukses secara komersial.
“Saya sampai harus mengundi pembeli karya-karya Heri Dono dalam pameran itu,” ungkap Biantoro Santoso, pendiri dan pemilik Nadi Gallery. “Heboh! Kolektor harus pakai undian untuk membeli karya di galeri baru!”
Dua belas hari setelah pameran Heri Dono berakhir, Nadi Gallery menaja pameran tunggal I Gusti Ayu Kadek Murniasih, Fantasi Tubuh (13-29 Oktober 2000). Pameran itu pun meraih sukses komersial. Mengejutkan. Murniasih belum dikenal luas seperti saat ini. Tapi, Nadi Gallery mampu melakukan puluhan lukisannya dalam pameran tersebut.
“Mungkin karena harga lukisan Murniasih masih murah saat itu,” kata Biantoro Santoso.
Dua pekan pascapameran Murniasih, Nadi Gallery mengadakan pameran tunggal Erica Hestu Wahyuni, My Dream and Diary (17 November–3 Desember 2000). Sebagaimana pameran Heri Dono dan Murniasih, pameran Erica berhasil secara komersial.
“Seluruh karya Erica habis terjual, tidak ada satu pun yang tersisa,” kata Biantoro Santoso.
Kombinasi dan Standar
Apa yang memampukan Nadi Gallery melakukan karya Heri Dono, Murniasih, dan Erica dalam pameran yang diampu dan ditulis oleh kurator Hendro Wiyanto itu adalah kombinasi kecermatan membaca peluang penawaran dan permintaan atas karya perupa terkemuka yang tengah diminati atau dicari oleh kolektor atau pelaku pasar seni rupa Indonesia, dan keberanian mengetengahkan karya baru, unik, atau segar perupa belum bernama di medan seni rupa tanah air.
Kombinasi itu, ditunjang dengan pengurasian, penulisan, dan presentasi yang terancang baik, merupakan standar Nadi Gallery dalam menampilkan karya seni rupa(wan) untuk pameran tunggal, pameran bersama, atau art fair. Kombinasi dan standar itu berlaku sampai hari ini di Nadi Gallery. Dengan itu, dengan kualitas pameran atau mutu karya seni rupa yang dipamerkan, Nadi Gallery membangun dan mengukuhkan reputasinya sepanjang dua puluh lima tahun ini.
Oleh karena itu, dalam interaksi Nadi Gallery dengan perupa atau kurator, mengambil alih perkataan Hannah Wohl dalam Bound by Creativity: How Contemporary Art is Created and Judged (2021: 31), ada tiga jenis keputusan kreatif yang akan mereka negosiasikan dengan cermat: jenis karya apa yang dibuat perupa, bagaimana mengatur karya-karya itu di ruang pameran, dan jadwal pameran.
“Tapi, saya tetap berlaku fleksibel,” kata Biantoro Santoso. “Saya selalu mengedepankan pendekatan pertemanan yang setara,” tegasnya.
Dengan begitu, Biantoro Santoso mampu meyakinkan perupa terpandang dengan reputasi tinggi seperti Heri Dono, Agus Suwage, Handiwirman Saputra, dan Ugo Untoro untuk berpameran tunggal lebih dari satu kali di Nadi Gallery atau di tempat pameran lainnya yang dikelola oleh Nadi Gallery.
Penyokong Visi Kreatif
Dari perspektif perupa, keberulangan itu dimungkinkan oleh kemampuan Nadi Gallery berperan sebagai penyokong visi kreatif mereka. Mengikuti pemahaman Hannah Wohl (2021: 9), “visi kreatif merupakan sekumpulan konsistensi yang bermakna dalam sebuah karya, yang berubah seiring berjalannya waktu, bersamaan dengan evolusi karya itu.”
I Dewa Ngakan Made Ardana mengakui kemampuan Nadi Gallery itu sehingga memungkinkannya berpameran tunggal, Di Hadapan Bayang-bayang, pada 25 Februari–15 Maret 2020.
“Bukan Nadi Gallery yang mengundang saya berpameran, melainkan saya yang mengajukan pameran itu ke Pak Bian, karena saya yakin dia akan memahami dan menerima visi kreatif saya melalui karya-karya dalam pameran itu,” kata Ardana.
Dalam pusaran pemahaman dan penerimaan Biantoro Santoso atas visi kreatif perupa sepanjang dua puluh lima tahun ini, tak pelak lagi, Nadi Gallery telah membangun dan mengembangkan hubungannya dengan perupa bukan hanya berdasar kepentingan ekonomi, melainkan juga penghormatan bersama.
Kepentingan ekonomi itu, promosi, distribusi, dan transaksi, memang berharga. Tapi, seperti diutarakan Henrik Hagtvedt dalam Money and Marketing in the Art World (2025: 48), galeri dan perupa dapat “membangun ikatan yang erat dan berfungsi lebih seperti teman dan mentor ketimbang mitra bisnis atau pemberi kerja.”
Itulah barangkali semacam rahasia yang memampukan Nadi Gallery mencapai usia 25 tahun, usia terbilang matang atau dewasa, bahkan tua, untuk ukuran di dunia seni rupa Indonesia saat ini.
Dalam rahasia itu kita melihat peran dan kontribusi khas Nadi Gallery yang membuatnya masih bernadi sampai saat ini, yang menjadikannya subjek penting di dunia seni rupa Indonesia dengan 152 pameran seni rupa (68 pameran tunggal, 84 pameran bersama) oleh 235 perupa lintas generasi dari dalam dan luar negeri.
Atas peran itu, saya teringat perkataan Matthew Israel dalam bukunya, A Year in the Art World: An Insider’s View (2020: 3), ini:
“Sejarah seni rupa bukan hanya kisah para perupa dan gerakannya, tetapi juga kisah semua orang dan institusi yang berkolaborasi dan mendukung para perupa dan karya mereka.”
Pada hari jadinya yang ke 25 ini, saya ingin Anda percaya bahwa Nadi Gallery ada dalam kisah itu. ***
.
Wahyudin. Kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta.
.
Jawa Pos menerima esai seni dan budaya dengan panjang naskah 700 kata. Sertakan biodata singkat, foto terbaru, kartu identitas, nomor rekening, dan NPWP. Esai dikirim ke halte@jawapos.co.id Masih Bernadi. Masih Bernadi. Masih Bernadi. Masih Bernadi. Masih Bernadi. Masih Bernadi. Masih Bernadi. Masih Bernadi. Masih Bernadi. Masih Bernadi. Masih Bernadi.
Leave a Reply