Ruang Berpikir dan Berpendapat

Bandung Mawardi, Halte, Jawa Pos

Sejarah dan Rumah

Sejarah dan Rumah - Halte Bandung Mawardi

Sejarah dan Rumah ilustrasi Nina/Jawa Pos

Halte Bandung Mawardi (Jawa Pos, 06 September 2025)

ORDE Baru meninggalkan masalah-masalah rumah. Kita tak lagi harus pusing memikirkan rumah beralamat di Jalan Cendana, Jakarta. Rumah itu telah nostalgia saja. Dulu, laju Orde Baru sangat dipengaruhi pertemuan dan percakapan di rumah yang dihuni keluarga Soeharto. Ia memang kadang berada di Istana Kepresidenan, tapi kita mengetahui berita-berita di koran, majalah, radio, dan televisi bersumber dari rumah. Selama puluhan tahun, orang-orang menganggap rumah itu berkah sekaligus kutukan atas nasib Indonesia bertajuk pembangunan nasional.

Di majalah Tempo, 25 Februari 1987, kita membaca judul besar di sampul: Perkara Rumah Murah. Indonesia memiliki kementerian yang mengurusi rumah dan peraturan-peraturan tentang rumah, tapi “kaum jelata” atau “kaum bawah” sulit menghuni rumah. Mereka dalam beragam masalah dan dilema saat Orde Baru bermimpi negara makmur dan sejahtera. Pada masa lalu malah muncul lelucon saat bermunculan sebutan “rumah sederhana” atau “rumah sangat sederhana”.

Soeharto

Nostalgia atas warisan makna-makna Orde Baru ditaruh Afrizal Malna (2013) dalam puisi berjudul “arsitektur orde baru di rumahmu”. Kita membaca puisi, membaca (politik) Indonesia. Afrizal Malna bukan pengarang yang betah tinggal di satu rumah. Ia terbiasa berpindah kota dan rumah. Ia mengaku hidup dalam koper, bergerak dan berpindah tanpa jadwal tetap.

Afrizal Malna menulis: Aku sudah makan, sarapan yang dibuat pembantumu./Tapi aku tidak makan ikan, rasanya seperti memakan/semua yang berbau amis dalam tubuhku. Perumahan/yang kering dari arsitektur Orde Baru, di sini. Yang/mencincang-cincang seperti korek api dan/bensin di sebelahnya.

Ia mengerti lakon rezim Orde Baru dan politik-rumah diselenggarakan oleh presiden, menteri, dan kaum modal. Persoalan rumit dan menimbulkan gegeran, penggusuran, dan perlawanan itu rumah. Pada masa Orde Baru, rumah-rumah dimengerti dalam arus ideologi untuk kemenangan-kemenangan seribu dalil yang dibuat oleh penguasa. Sekian halaman mengenai Orde Baru membuat kita berpikiran hidup-mati di rumah. Soeharto terlalu menguasai sampai mengetahui hal-hal dalam rumah. Agenda kepatuhan dan ketertiban wajib diwujudkan mula-mula di rumah.

Soekarno

Agustus telah berlalu. Kita terkenang Soekarno dan rumah. Sejarah dibuat di rumah beralamat di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Di situ, pembacaan teks proklamasi. Orang-orang berkumpul untuk kemuliaan Indonesia. Rumah itu dihuni keluarga Soekarno, tapi sering kedatangan tokoh-tokoh yang memikirkan nasib Indonesia.

Rumah sebagai sumber sejarah. Soekarno malah sengaja menghilangkan rumah. Konon, ia tak menginginkan terjadi pengeramatan. Sejarah di situ sekadar terlihat di foto-foto lama dan ingatan. Soekarno terlalu berani membuat gejolak sejarah. Rumah berganti tugu. Soekarno tetap “menanamkan” merdeka, tapi pengertian dan biografi rumah telah menghilang dari tatapan mata.

Agustus, ikhtiar mengingat sejarah dilakukan di pelbagai tempat. Jutaan orang mengadakan upacara meski gagal berziarah di rumah-sejarah. Mereka sekadar bisa mendatangi kuburan atau makam untuk berdoa, berpidato, dan berpotret. Kebijakan yang dibuat Soekarno masa lalu tampak merenggangkan hubungan rumah dan sejarah atau rumah dan (gairah) kemerdekaan.

Agustus, jutaan orang justru tergoda mengingat dan mengartikan sejarah di Gedung DPR dan Istana Kepresidenan. Tempat-tempat terpilih untuk pidato, tepuk tangan, joget, dan berdoa. Selebrasi atas nama sejarah sempat menggirangkan. Sekian jam dan hari setelah peristiwa-peristiwa di dua tempat penting, Indonesia dalam malapetaka.

Demonstrasi di jalan dan gedung-gedung (polisi, parlemen, birokrasi) menciptakan Indonesia mencekam dan berapi. Konon, kemarahan dan kecewa jutaan orang gara-gara omongan tunjangan rumah. Pengumuman berlaku untuk orang-orang di parlemen, bukan kaum jelata. Kegagalan mengunjungi rumah sejarah atau bercerita rumah-rumah penting dalam pembentukan Indonesia justru mendapat imbuhan duka gara-gara tunjangan rumah berangka besar. Jutaan orang merasa “terhina” oleh pemanjaan yang diberikan kepada kaum terhormat di parlemen. Rumah pun memicu protes dan perlawanan.

Kita sudah terbiasa “disiksa” imajinasi rumah mewah bagi kaum politik yang mengaku mengabdi demi Indonesia. Sejak puluhan tahun lalu, kaum yang mengaku sukses dalam politik dan bisnis menghuni rumah-rumah mewah. Selera mereka turut menentukan lakon Orde Baru.

Buku berjudul Para Superkaya Indonesia (1999) susunan Veven SP Wardhana dan H Barus memberi bab penting bertema rumah berlatar Orde Baru. Kita diajak mengingat Jakarta sebagai pusat politik bercerita rumah. Kalimat-kalimat mengingatkan: “Kalau tinggal di daerah Menteng dan Kebayoran Baru dua puluh tahun lalu, bolehlah berbangga diri. Dua lokasi ini identik dengan kemewahan. Belakangan, setelah semuanya terus berkembang dan banyak lokasi perumahan baru muncul… Kawasan-kawasan baru itu antara lain Perumahan Pondok Indah… Yang pasti, para warga yang tinggal di lokasi tersebut dijamin termasuk kelompok atas.” Kita mundur ke masa lalu saat terjadi pembedaan lokasi dan arsitektur rumah bagi kaum elite dan berduit.

Abad XXI

Pada abad XXI, kawasan untuk rumah-rumah mewah pun berubah. Kita tetap mengingat masa Orde Baru melalui puisi gubahan Afrizal Malna (1996) berjudul “Rumah Orang Indonesia”. Kita membaca sejenis kritik dan lelucon: bangunan tiga lantai sedang dicat/lagi, selamat pagi. dua disel di lantai bawah/tanah, seperti kuburan orang-orang tak bisa tidur./mesin pendingin, kursi untuk hantu di lantai atas./lukisan diponegoro menunggangi kuda dari bulu/ayam, aduh berterbangan menutupi matamu, aku/belum bisa tidur katanya, lampu-lampu kristal,/30 kamar tidur seperti mengambang di atas laut. Kita menghadapi imajinasi yang mengandung kemegahan, absurditas, dan kerumitan mengenai pamrih orang-orang di Indonesia memiliki dan menghuni rumah.

Agustus, kita tak sekadar mengenang sejarah, tapi menjadi saksi kekuasaan dan rumah. Orang-orang terhormat di DPR memberi omongan dan sikap yang mengakibatkan massa marah. Tunjangan rumah untuk kaum DPR mendapat perlawanan. Indonesia di babak akhir Agustus bercerita penjarahan rumah-rumah mewah yang dihuni orang-orang terhormat di DPR. Kita mencatat rumah masuk lagi dalam arus sejarah Indonesia.

Puncak dari gelaran pembuatan sejarah dan rumah dilakukan oleh dua menteri atas perintah Prabowo Subianto, 1 September 2025. Mereka hadir dalam pemberian rumah kepada keluarga almarhum Affan Kurniawan, konsekuensi dari petaka dilindas oleh rantis, 28 Agustus 2025. Kita mengutip ucapan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait: “Atas nama negara, saya menyerahkan kunci ini.” Dua menteri dan keluarga Affan Kurniawan pun berfoto di depan rumah. Begitu. ***

.

Bandung Mawardi. Pedagang buku bekas.

.

Jawa Pos menerima esai seni dan budaya dengan panjang naskah 700 kata. Sertakan biodata singkat, foto terbaru, kartu identitas, nomor rekening, dan NPWP. Esai dikirim ke halte@jawapos.co.id

Sejarah dan Rumah. Sejarah dan Rumah. Sejarah dan Rumah. Sejarah dan Rumah. Sejarah dan Rumah. Sejarah dan Rumah. Sejarah dan Rumah. Sejarah dan Rumah.

Leave a Reply