Ruang Berpikir dan Berpendapat

Artie Ahmad, Jawa Pos, Sudut Pengarang

Dari Noni ke Gowok, Transformasi Perempuan Indo-Belanda

Dari Noni ke Gowok, Transformasi Perempuan Indo-Belanda - Sudut Pengarang

Nyi Sadikem ilustrasi Marjin Kiri

Sudut Pengarang (Jawa Pos, 30 Agustus 2025)

ARTIE AHMAD mengangkat profesi gowok dalam novel terbarunya, Nyi Sadikem. Kisah ini berlatar 1920-an hingga 1930-an.

Tokohnya berpusat pada Elizabeth van Kirk, perempuan Indo-Belanda alias noni, yang beribu pribumi dan seorang gundik belian. Kehidupan gowok menjadi salah satu jalan untuk mengubah kelas hidupnya. Derajat Elizabeth sebagai anak gundik memang menyulitkan, seperti yang dialami anak hasil kawin campur tanpa pernikahan sah di era itu.

Artie menjelaskan, gowok merupakan salah satu profesi yang berkembang di beberapa wilayah Jawa pada masa itu. Mereka bertugas mengajari pria muda dari kalangan elite atau kaum priyayi untuk menjalani kehidupan mapan sebagai lelaki utama, terutama sebagai suami.

Gowok menjadi istri bayangan bagi pemuda yang mencantrik kepada dirinya. Kehadiran gowok bukan sekadar soal ranjang, tetapi juga mengajari lelaki bagaimana menyenangkan istrinya, mulai urusan kasur hingga dapur.

“Dari beberapa literatur, masa menggowok atau mencantrik bagi seorang perjaka biasanya berlangsung beberapa hari hingga sepekan,” ujarnya.

Artie menuliskan kisah Nyi Sadikem yang akhirnya memerankan seorang gowok setelah menjadi gundik bagi tokoh bernama Martomo. Elizabeth van Kirk memang berganti nama tiga kali, dari Elizabeth menjadi Moerni, lalu Nyi Sadikem.

Tapi, Nyi Sadikem, yang merupakan seorang dwija atau guru, menjadi gowok bukan karena kemauan sendiri. Ada spirit tertentu dan kelihaian guru dalam membujuknya.

Sebagai seorang noni Belanda dengan separo darah Jawa, dia memutuskan untuk “bunuh diri kelas” dan bertransformasi menjadi seorang Jawa sepenuhnya. Meski, secara fisik, hal itu tak mungkin sepenuhnya.

“Nyi Sadikem lahir dan tumbuh dalam kepapaan, tetapi kondisi itulah yang menjadi kunci baginya untuk bertumbuh, bangkit, dan berdiri kokoh,” tuturnya.

Alasan Artie mengangkat gowok adalah karena dia merasa profesi ini menarik. Seorang guru dibutuhkan untuk membentuk pribadi calon lelaki dewasa, calon suami masa depan. Mereka yang mampu menyewa jasa gowok biasanya berasal dari kalangan priyayi: memiliki uang dan menjadi pejabat.

“Murid yang dibawa untuk diajar seorang gowok umumnya telah dipersiapkan untuk menikah, bukan semata atas dasar cinta, tetapi juga pernikahan politik yang dirancang untuk meningkatkan derajat keluarga,” jelasnya.

Nyi Sadikem bukan hanya mengulik soal gowok. Lebih dari itu, Artie ingin menyampaikan pesan lain yang juga sering muncul dalam karya karya sebelumnya: pentingnya memanusiakan orang lain.

Kerja “keperawatan” yang dilakukan Nyi Sadikem mungkin mimpi banyak orang, terutama perempuan. Kebebasan hidup adalah hak semua orang, tanpa memandang kelas maupun jenis kelamin. Baginya, harapan hidup selalu ada bagi setiap manusia.

Sebagian orang menyebut buku ini sebagai kamasutra Jawa. Tapi, sebagai penulis, Artie merasa sebutan itu terlalu tinggi lantaran novel ini tidak sekadar mengulik soal itu.

Kamasutra adalah karya seorang filsuf Vatsyayana, kandungan sastranya tinggi, dan tentu penyusunannya lewat laku yang luar biasa. “Saya ingin novel ini disebut selayaknya karangan novel pada umumnya, fiksi tanpa sebutan lain,” katanya. ***

Dari Noni ke Gowok, Transformasi Perempuan Indo-Belanda. Dari Noni ke Gowok, Transformasi Perempuan Indo-Belanda. Dari Noni ke Gowok, Transformasi Perempuan Indo-Belanda.

Leave a Reply