Esai Nurul Farida (Suara Merdeka, 21 September 2025)
MESKIPUN sudah terbit lebih dari delapan dekade lalu, The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupèry nyatanya masih sangat relevan dan menyentil hingga saat ini.
Kisahnya dimulai dengan sebuah cerita yang sangat sederhana, yaitu tentang seorang anak yang menggambar ular boa menelan gajah, tetapi setiap kali anak itu berusaha menunjukkan gambarnya kepada orang dewasa, mereka selalu menganggap bahwa itu adalah gambar topi.
Bagi anak-anak, gambar adalah pintu menuju dunia yang penuh dengan keajaiban. Sementara itu, mayoritas orang dewasa justru cenderung terpaku pada logika, angka, serta “hal-hal serius lain.” Perbedaan tersebut seolah menggambarkan tentang adanya sebuah jurang yang membatasi antara dunia anak-anak yang penuh warna dengan dunia orang dewasa yang cenderung serius. Pertanyaannya, benarkah orang dewasa sudah kehilangan kemampuan untuk memahami dunia anak-anak? Lewat kisah The Little Prince, kita akan berusaha menyelami celah ini—dan mungkin menemukan cara untuk menjembataninya.
Imajinasi Anak
Kita tentu sudah tidak asing lagi bahwa anak-anak memang memiliki bahasa yang unik, yaitu bahasa imajinasi. Mereka melihat dunia melalui cerita, simbol, serta perasaan. Sebuah kardus bisa saja mereka anggap sebagai kapal luar angkasa dan setangkai bunga bisa saja dianggap teman sejati. Sebaliknya, orang dewasa cenderung berbicara dalam bahasa fakta, “Berapa umurmu? Apa pekerjaanmu? Berapa penghasilanmu?”
Dalam The Little Prince, diceritakan bahwa Sang Pangeran Kecil kerap kali mengeluhkan kebiasaan orang dewasa yang terobsesi pada hal-hal terukur, tetapi malah mengabaikan makna yang ada di baliknya. Saat ia bercerita tentang bunga kesayangannya, hal yang penting baginya tentu bukanlah nama latin atau bentuk kelopaknya, melainkan ikatan emosional yang ia rasakan terhadap bunga tersebut. Sayangnya, orang dewasa sering kali tidak memahami bahasa ini karena terlalu sibuk dengan rutinitas hingga lupa cara melihat dunia melalui lensa anak-anak.
Dalam perjalanannya, Sang Pangeran Kecil singgah di beberapa planet yang masing-masing dihuni oleh orang dewasa dengan kebiasaan aneh. Di satu planet, ia bertemu dengan seseorang yang begitu sombong, selalu menganggap bahwa dirinya paling hebat meskipun sebenarnya ia tinggal seorang diri di planet itu. Di planet lain, ia berjumpa dengan seorang pengusaha yang sibuk menghitung jutaan bintang hanya demi “memilikinya.” Sosok ini seakan menyindir orang-orang yang mati-matian mengejar harta dan status, tetapi justru lupa untuk menikmati makna yang sebenarnya.
Ada pula seorang ahli geografi yang tak pernah beranjak dari mejanya, sepenuhnya bergantung pada laporan para pengelana untuk menyusun peta. Saat dia menanyakan tentang planet tempat Pangeran Kecil tinggal, ia mencatat gunung berapi yang ada di sana, tetapi menolak mencatat keberadaan mawar. Baginya, bunga itu dianggap tidak cukup penting.
Karakter-karakter tersebut seolah menjadi gambaran bagaimana orang dewasa sering kali terjebak dalam kesibukan mereka sendiri, seperti urusan kuasa, harta, atau rutinitas sehingga mereka gagal untuk melihat keindahan sederhana yang begitu alami bagi anak-anak, seperti menikmati matahari terbenam atau tawa bersama teman.
Pelajaran dari Rubah
Momen paling berkesan dalam The Little Prince terjadi saat Sang Pangeran Kecil bertemu dengan rubah. Dalam kisahnya, rubah banyak mengajarkan bahwa persahabatan sejati membutuhkan banyak waktu, kesabaran, serta proses untuk “menjinakkan.”
“Yang esensial tak terlihat oleh mata,” kata rubah, “hanya hati yang bisa melihat dengan benar.”
Anak-anak secara alami memahami hal ini. Mereka menjalin hubungan dengan tulus dan tanpa mengharapkan imbalan instan. Sebaliknya, orang dewasa cenderung terburu-buru dan mencari hubungan yang praktis serta efisien, seperti menjalin koneksi dengan segelintir orang hanya untuk keuntungan profesional. Dalam kesibukannya, mereka cenderung lupa bahwa kepekaan emosional—sesuatu yang anak-anak miliki secara alami—adalah kunci untuk menjalin ikatan yang lebih bermakna.
Meski penuh kritik, The Little Prince tetap menawarkan harapan dalam kisahnya. Sang pilot yang digambarkan sebagai seorang dewasa yang awalnya fokus pada logika dan tugasnya untuk memperbaiki pesawat yang jatuh di gurun, perlahan berubah saat ia akhirnya bertemu dan banyak berbincang dengan Sang Pangeran Kecil. Percakapan mereka membawanya kembali ke masa kecilnya saat ia masih bisa melihat ular boa yang digambarnya. Hal ini menunjukkan bahwa orang dewasa sebenarnya masih bisa memahami anak-anak, tetapi mereka harus mau untuk “turun level,” membuka hati, serta mendengarkan. Hubungan antara pilot dan Pangeran Kecil menjadi jembatan antara dunia imajinasi anak-anak dan dunia rasional orang dewasa.
The Little Prince mengingatkan kita bahwa memahami anak-anak bukan hal mustahil bagi orang dewasa. Anak-anak hidup dalam dunia penuh keajaiban, ketulusan, dan kepekaan. Sementara itu, orang dewasa sering kali terjebak dalam logika dan rutinitas. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh Sang Pilot, orang dewasa bisa belajar kembali cara melihat dunia melalui mata anak-anak, yaitu dengan sedikit melambat, mendengarkan, serta membuka hati.
Jurang antara kedua dunia itu memang nyata, tetapi sejatinya masih sangat mungkin untuk dijembatani. Mungkin, seperti kata Pangeran Kecil, kita hanya perlu ingat bahwa yang terpenting adalah “melihat dengan hati.” ***
.
Nurul Farida, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.
Menjenguk Dunia Anak Lewat “The Little Prince”. Menjenguk Dunia Anak Lewat “The Little Prince”. Menjenguk Dunia Anak Lewat “The Little Prince”.
Leave a Reply